Krisan atau sering juga disebut dengan bunga seruni, merupakan tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan sangat potensial untuk dikembangkan secara komersil. Tanaman krisan sangat cocok ditanam pada lahan dengan ketinggian antara 700 - 1200 di atas permukaan laut (dpl). Untuk daerah yang curah hujannya tinggi, penanaman harus dilakukan di dalam bangunan rumah plastik, karena krisan tidak terhadap tahan terpaan air. Untuk pembungaan bunga ini butuh cahaya yang lebih lama, oleh sebeb itu perlu bantuan cahaya dari lampu TL dan lampu pijar. Penyinaran paling baik di tengah malam antara jam 22.30 – 01.00 dengan lampu 150 watt untuk areal 9 meter persegi, dan lampu dipasang setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah.
Tanaman hias krisan merupakan bunga potong yang penting di dunia. Prospek budidaya krisan sebagai bunga potong sangat cerah, karena pasar potensial yang berdaya serap tinggi sudah ada. Diantara pasar potensial tersebut adalah Jerman, Inggris, Swiss, Italia, Austria, Amerika Serikat, Swedia dsb. Saat ini krisan termasuk bunga yang paling populer di Indonesia karena memiliki keunggulan yaitu bunganya kaya warna dan tahan lama, bunga krisan pot bahkan dapat tetap segar selama 10 hari. Peluang untuk mengembangkan budidaya tanaman krisan, guna memenuhi kebutuhan baik dalam maupun luar negeri tetap terbuka..
Kualitas dan mutu bunga adalah faktor yang sangat mempengaruhi harga jual bunga krisan. Banyak kasus menunjukan bahwa potongan bunga yang dihasilkan oleh petani Indonensia bermutu rendah hal ini berdampak terhadap harga jual yang rendah dan tidak dapat menutupi biaya produksi yang telah di keluarkan sehingga diperlukan perbaikan teknik budidaya dengan menerapakan teknologi anjuran yaitu dengan penerapan teknik kultur jaringan tanaman sehingga kondisi pertumbuhan sesuai dengan karakteristiknya.
Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ yang serba steril, ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbayak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang lengkap.
Krisan dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif perbanyakan krisan secara generatif jarang dilakukan kerena sulit dan bersifat neterozigot (keturunan dari biji tidak sama dengan indukannya) selain itu perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu lama dan penanganan khusus.
Perbanyakan krisan secara vegetatif biasnya melalui stek pucuk, anakan dan kultur jaringan. Perbanyakan secara kultur jarungan dapat menghemat waktu dan diperolah jumlah bibit krisan banyak menutur Nugroho san Sugito (2000). Tanaman krisan dapt dikembangkan melalui teknik meristem culture yaitu teknik kultur jaringan dnega menggunakan bagian tanaman jrinag muda atau meristem. Selain itu kelebihan kultur meristem, yang mampu menghasilkan bibit tanaman identik dengan induknya. (rice et all 1992) mengatakan bahwa kultur meristem mampu meningkatkan laju induksi dan penggandaan tunas, mampu memperbaiki mutu bibit yang dihasilkan, serta mampu mempertahankan sifat-sifat morfologi yang positif.
Dasar teori yang digunakan adalah teori totipotensi yang ditulis oleh Schleiden dan Schwann (Suryowinoto dan Suryowinoto, 1977) yang menyatakan bahwa teori totipotensi adalah bagian tanaman yang hidup mempunyai totipotensi, kalau dibudidayakan di dalam media yang sesuai, akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang sempurna, artinya dapat bereproduksi, berkembang biak secara normal melalui biji atau spora.
Zat pengatur tumbuh (ZPT) pada tanaman adalah senyawa organik bukan hara yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan merubah proses fisiologis tumbuhan. ZPT pada tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu Auksin, Giberilin, Sitokinin, Etilin dan Inhibitor dengan ciri khas serta berpengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis.
Zat pengatur tumbuh (ZPT) sangat diperlukan sebagai komponen medium bagi pertumbuhan dan deferensiasi, tanpa penambahan ZPT dalam medium pertumbuhan akan sangat terhamat bahkan mungkin tidak tumbuh sama sekali. Pembentukan kalus dan organ-organ ditentukan oleh penggunaan yang tepat dari pengunaan ZPT tersebut.
Golongan Auksin yang sering ditambahkan dalam medium adalah; indol asam asetat (IAA), 2,4 dikhloro fenoksiasetat (2,4 D), dan indol buterik asetat (IBA), sedangkan golongan sitokinin yang sering ditambahkan dalam medium antara lain; benzilaminopurin (BAP), zeatin dan kinetin.

Eksplan yang digunakan pada tanaman krisan adalah nodus karena untuk menginduksi tunas adventif. Kultur Aseptik, Krisan diawali dengan sterilisasi yang merupakan kegiatan untuk menghilangkan kontaminan organisme yang menempel di permukaan eksplan. Tujuan utama tahap ini adalah mengusahakan kultur yang aseptik dan aksenik. Aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan, sedangkan aseptik berarti bebas dari mikroorganisme.

Read More
Diposkan oleh FREEDOM on Sabtu, 15 Agustus 2009
2 komentar
categories: | edit post

About Me

Foto saya
sya anak ke 3 dari 3 bersaudra/.....dilahirkan hari minggu bulan mei.......makanya nama Q mamiek..........he heheh hehe